Strategi SEO untuk e-commerce tidak cukup hanya berfokus pada kata kunci dengan volume pencarian tinggi. Pemilik bisnis perlu memahami posisi calon pelanggan dalam perjalanan pembelian, kemudian menghadirkan konten yang sesuai dengan kebutuhan mereka pada setiap tahap. Melalui strategi content funnel e-commerce, bisnis dapat mengelompokkan keyword berdasarkan tingkat kesadaran, pertimbangan, dan kesiapan membeli. Pelajari cara menyusun content funnel dari keyword agar Anda dapat menarik calon pelanggan, membangun kepercayaan, dan mendorong lebih banyak transaksi melalui konten yang tepat sasaran. Dengan pendekatan ini, setiap artikel, halaman kategori, dan halaman produk memiliki fungsi yang jelas dalam mendukung pertumbuhan bisnis.
Banyak toko online membuat konten berdasarkan daftar keyword tanpa memperhatikan tujuan pengguna. Mereka menulis artikel, membuat halaman produk, dan menambahkan kata kunci sebanyak mungkin. Namun, strategi tersebut sering menghasilkan traffic yang tidak memberikan dampak terhadap penjualan.
Content funnel membantu bisnis menghubungkan keyword dengan perjalanan calon pelanggan. Melalui funnel ini, bisnis dapat menentukan konten yang tepat untuk pengguna yang baru mengenal masalah, sedang mempertimbangkan solusi, atau sudah siap membeli produk.
Apa Itu Content Funnel untuk E-commerce?
Content funnel merupakan pendekatan untuk menyusun konten berdasarkan tahapan perjalanan calon pelanggan. Setiap tahap memiliki kebutuhan informasi, niat pencarian, dan jenis konten yang berbeda.
Secara umum, content funnel terdiri dari tiga tahap utama:
- Top of Funnel atau tahap awareness
- Middle of Funnel atau tahap consideration
- Bottom of Funnel atau tahap conversion
Pada tahap awareness, pengguna baru menyadari masalah atau kebutuhan tertentu. Mereka belum mencari merek atau produk secara spesifik. Pada tahap consideration, pengguna mulai membandingkan solusi. Sementara itu, pada tahap conversion, pengguna sudah memiliki niat membeli yang kuat.
E-commerce perlu hadir pada seluruh tahapan tersebut. Apabila bisnis hanya membuat halaman produk, bisnis kehilangan kesempatan untuk menjangkau calon pelanggan yang masih mencari informasi. Sebaliknya, apabila bisnis hanya membuat artikel edukasi, traffic mungkin meningkat tanpa menghasilkan transaksi.
Mengapa Strategi Content Funnel E-commerce Penting?
Strategi content funnel e-commerce membantu bisnis mengarahkan pengguna dari pencarian informasi menuju keputusan pembelian. Strategi ini membuat proses pembuatan konten menjadi lebih terarah karena setiap keyword memiliki tujuan dan posisi yang jelas.
Sebagai contoh, sebuah toko online yang menjual sepatu lari dapat menargetkan keyword “cara memilih sepatu lari” untuk tahap awareness. Setelah itu, bisnis dapat menargetkan keyword “sepatu lari untuk pemula terbaik” pada tahap consideration. Pada tahap conversion, bisnis dapat mengoptimalkan halaman dengan keyword seperti “beli sepatu lari pria original”.
Ketiga keyword tersebut membahas produk yang sama, tetapi memiliki niat pencarian berbeda. Karena itu, bisnis tidak dapat menggunakan format konten yang sama untuk seluruh keyword.
Content funnel juga membantu tim marketing mengukur performa konten secara lebih tepat. Artikel awareness mungkin tidak langsung menghasilkan penjualan, tetapi artikel tersebut dapat memperkenalkan merek kepada calon pelanggan. Sementara itu, halaman kategori dan produk harus mendorong tindakan yang lebih dekat dengan transaksi.
Memulai Keyword Research untuk Content E-commerce
Keyword research untuk e-commerce harus berangkat dari produk, kebutuhan pelanggan, masalah yang mereka alami, dan pertanyaan yang muncul sebelum membeli. Jangan hanya mengandalkan volume pencarian karena angka tersebut tidak selalu menunjukkan potensi penjualan.
Mulailah dengan membuat daftar kategori produk yang tersedia di toko online. Setelah itu, catat masalah, manfaat, fitur, bahan, ukuran, merek, dan cara penggunaan setiap produk.
Sebagai contoh, toko yang menjual skincare dapat mengembangkan keyword dari beberapa kelompok berikut:
- Masalah kulit, seperti kulit kering, kusam, atau berjerawat.
- Jenis produk, seperti serum, toner, pelembap, dan sunscreen.
- Kandungan produk, seperti niacinamide, retinol, dan salicylic acid.
- Kebutuhan pengguna, seperti skincare untuk remaja atau ibu hamil.
- Niat transaksi, seperti harga, diskon, beli, original, dan pengiriman cepat.
Untuk mendukung strategi content funnel ecommerce, gunakan Google Search, Google Keyword Planner, Google Search Console, dan berbagai tools SEO untuk menemukan variasi keyword yang relevan. Anda juga dapat menggali ide kata kunci dari pertanyaan pelanggan melalui WhatsApp, komentar media sosial, ulasan produk, serta percakapan dengan tim penjualan.
Sumber tersebut sering menghasilkan keyword yang lebih dekat dengan kebutuhan nyata calon pembeli.
Baca juga yuk: Website Bisnis Terancam Zero Click Search?
Mengelompokkan Keyword Berdasarkan Search Intent

Search intent menunjukkan tujuan pengguna ketika mengetikkan kata kunci di mesin pencari. Dengan memahami search intent, Anda dapat menentukan posisi keyword dalam funnel konten e-commerce.
Informational Intent
Pengguna dengan informational intent ingin memperoleh pengetahuan atau menyelesaikan masalah. Mereka biasanya menggunakan kata seperti:
- Cara
- Tips
- Panduan
- Penyebab
- Manfaat
- Apa itu
- Berapa lama
Keyword informational cocok untuk tahap awareness. Anda dapat membuat artikel blog, panduan, video edukasi, infografis, atau konten FAQ.
Contohnya antara lain “cara membersihkan sepatu putih”, “manfaat serum vitamin C”, dan “cara memilih ukuran koper”.
Commercial Investigation Intent
Pada tahap ini, pengguna sudah memahami kebutuhan dan mulai membandingkan pilihan. Mereka sering menggunakan kata seperti:
- Terbaik
- Rekomendasi
- Perbandingan
- Review
- Bagus mana
- Kelebihan dan kekurangan
- Cocok untuk
Keyword tersebut cocok untuk tahap consideration. Gunakan artikel perbandingan, panduan memilih produk, ulasan, studi kasus, atau halaman koleksi.
Contohnya yaitu “rekomendasi sepatu lari untuk pemula”, “serum vitamin C terbaik untuk kulit kusam”, atau “koper bahan ABS vs polycarbonate”.
Transactional Intent
Pengguna dengan transactional intent sudah siap melakukan pembelian. Mereka sering mengetikkan kata seperti:
- Beli
- Harga
- Promo
- Diskon
- Murah
- Original
- Gratis ongkir
- Toko terdekat
Keyword ini harus mengarah ke halaman kategori, halaman produk, landing page promosi, atau marketplace.
Contohnya yaitu “beli sepatu lari original”, “harga serum vitamin C 20 ml”, dan “promo koper kabin gratis ongkir”.
Menyusun Konten untuk Tahap Awareness
Pada tahap awareness, fokuslah membantu pengguna memahami masalah dan menemukan solusi awal. Hindari menawarkan produk secara berlebihan karena pengguna belum tentu siap membeli.
Buat konten yang menjawab pertanyaan umum secara lengkap. Gunakan bahasa yang mudah dipahami, contoh yang relevan, dan langkah yang dapat langsung diterapkan.
Sebuah toko perlengkapan bayi, misalnya, dapat membuat artikel mengenai cara memilih ukuran popok, penyebab bayi sulit tidur, atau daftar perlengkapan bayi baru lahir.
Artikel tersebut dapat menarik calon pelanggan yang belum mengenal toko. Setelah mereka memperoleh manfaat dari konten, arahkan mereka menuju artikel lanjutan atau halaman kategori yang relevan.
Tambahkan internal link secara alami. Jangan langsung mengarahkan seluruh pembaca ke halaman checkout. Berikan jalur yang sesuai dengan kesiapan mereka.
Membuat Konten Tahap Consideration
Pada tahap consideration, calon pelanggan sudah mulai menilai berbagai pilihan. Mereka membutuhkan informasi yang membantu proses perbandingan.
Konten pada tahap ini harus menjelaskan perbedaan produk, manfaat, kecocokan, kualitas bahan, fitur, harga, dan hasil penggunaan. Bisnis juga perlu menjawab keraguan yang sering menghambat pembelian.
Anda dapat membuat artikel seperti:
- Perbandingan produk A dan produk B.
- Rekomendasi produk berdasarkan kebutuhan.
- Panduan memilih ukuran atau varian.
- Review produk secara mendalam.
- Daftar produk terlaris.
- Produk terbaik berdasarkan anggaran.
Hindari klaim yang terlalu berlebihan. Berikan penjelasan yang objektif agar calon pelanggan merasa yakin. Apabila satu produk tidak cocok untuk kebutuhan tertentu, jelaskan alternatifnya.
Pendekatan tersebut membantu bisnis membangun kepercayaan dan mengurangi risiko pelanggan memilih produk yang salah.
Mengoptimalkan Konten Tahap Conversion
Dalam strategi content funnel e-commerce, tahap conversion berfokus pada pengguna yang sudah siap melakukan pembelian. Oleh karena itu, halaman produk dan kategori harus menyajikan informasi yang lengkap, jelas, serta mudah dipahami agar calon pelanggan semakin yakin untuk menyelesaikan transaksi.
Cantumkan nama produk, manfaat utama, spesifikasi, ukuran, bahan, pilihan warna, harga, ketersediaan stok, metode pembayaran, serta informasi pengiriman. Gunakan foto berkualitas tinggi dari beberapa sudut.
Tambahkan ulasan pelanggan, jaminan keaslian, kebijakan pengembalian, serta informasi keamanan transaksi. Elemen tersebut dapat mengurangi keraguan calon pembeli.
Gunakan keyword transactional secara alami pada judul halaman, deskripsi produk, meta title, meta description, URL, dan alt text gambar. Namun, hindari memasukkan kata kunci secara berlebihan karena praktik tersebut dapat mengganggu kenyamanan pembaca.
Pastikan tombol pembelian terlihat jelas. Gunakan CTA yang langsung menjelaskan tindakan, seperti “Beli Sekarang”, “Tambahkan ke Keranjang”, atau “Konsultasikan Produk”.
Menghubungkan Setiap Tahap dengan Internal Link
Internal link memiliki peran penting dalam strategi content funnel. Tautan internal membantu pengguna melanjutkan perjalanan dari satu tahap menuju tahap berikutnya.
Artikel awareness dapat mengarah ke panduan produk. Panduan produk dapat mengarah ke halaman kategori. Selanjutnya, halaman kategori dapat mengarahkan pengguna ke produk tertentu.
Sebagai contoh, artikel “Cara Memilih Sepatu Lari” dapat mengarahkan pembaca ke artikel “Rekomendasi Sepatu Lari untuk Pemula”. Artikel rekomendasi tersebut kemudian mengarahkan pengguna ke halaman kategori sepatu lari atau produk yang sesuai.
Gunakan anchor text yang menjelaskan isi halaman tujuan. Hindari anchor text umum seperti “klik di sini” karena pengguna tidak memperoleh gambaran mengenai halaman yang akan mereka buka.
Struktur internal link yang baik juga membantu mesin pencari memahami hubungan antara artikel, kategori, dan halaman produk.
Siap tingkatkan traffic organik? Percayakan pada SEO specialist kami — hubungi sekarang juga!
Menyesuaikan CTA dengan Tahapan Funnel
Setiap konten membutuhkan CTA, tetapi bentuk CTA harus menyesuaikan tahap funnel.
Pada tahap awareness, dorong pengguna untuk membaca artikel terkait, mengunduh panduan, mengikuti media sosial, atau berlangganan newsletter. Memasuki tahap consideration, ajak mereka melihat rekomendasi produk, membandingkan pilihan, maupun berkonsultasi dengan tim.
Pada tahap conversion, gunakan CTA yang lebih langsung, seperti membeli produk, memesan sekarang, menggunakan voucher, atau menghubungi customer service.
Jangan memasang CTA yang terlalu agresif pada seluruh halaman. CTA yang tepat harus terasa sebagai kelanjutan alami dari informasi yang baru saja pengguna baca.
Mengukur Performa Funnel Konten E-commerce
Bisnis perlu mengukur performa setiap tahap dengan indikator yang berbeda. Jangan menilai seluruh konten hanya berdasarkan jumlah transaksi langsung.
Untuk tahap awareness, perhatikan impressions, jumlah pengunjung organik, engagement, durasi kunjungan, dan pertumbuhan keyword. Pada tahap consideration, ukur jumlah klik menuju halaman produk, interaksi dengan konten perbandingan, serta kunjungan berulang.
Pada tahap conversion, perhatikan conversion rate, jumlah add to cart, transaksi, nilai pesanan, serta pendapatan dari traffic organik.
Gunakan Google Analytics dan Google Search Console untuk memahami bagaimana pengguna menemukan dan berpindah antarhalaman. Data tersebut dapat menunjukkan bagian funnel yang masih lemah.
Apabila artikel mendapatkan banyak traffic tetapi sedikit pengguna membuka halaman produk, perbaiki CTA dan internal link. Apabila halaman produk mendapatkan banyak kunjungan tetapi konversinya rendah, evaluasi harga, deskripsi, foto, kepercayaan, dan proses checkout.
Kesalahan yang Perlu Dihindari
Kesalahan pertama yaitu menargetkan seluruh keyword ke halaman produk. Keyword informational membutuhkan artikel edukasi, bukan halaman yang langsung menawarkan barang.
Kesalahan kedua yaitu membuat banyak artikel tanpa menghubungkannya dengan halaman komersial. Kondisi tersebut dapat menghasilkan traffic tanpa mendukung penjualan.
Kesalahan ketiga yaitu menggunakan konten yang sama untuk keyword dengan intent berbeda. Google dan pengguna membutuhkan halaman yang paling sesuai dengan tujuan pencarian.
Kesalahan berikutnya yaitu mengejar volume pencarian besar tanpa melihat relevansi produk. Keyword dengan volume lebih kecil sering menghasilkan konversi lebih tinggi karena memiliki kebutuhan yang lebih spesifik.
Terakhir, banyak bisnis tidak mengevaluasi perjalanan pengguna. Mereka hanya melihat ranking tanpa memeriksa apakah pengguna berpindah dari artikel menuju kategori, produk, dan transaksi.
Bangun Content Funnel yang Mendukung Penjualan
Strategi content funnel e-commerce membantu bisnis mengubah aktivitas SEO menjadi perjalanan pelanggan yang lebih terarah. Melalui pendekatan ini, e-commerce tidak hanya menarik traffic, tetapi juga membangun kepercayaan, menjawab keraguan calon pembeli, serta mengarahkan mereka secara bertahap menuju keputusan pembelian.
Mulailah dengan memahami search intent, kelompokkan keyword berdasarkan tahapan funnel, lalu buat konten yang sesuai dengan kebutuhan pengguna. Hubungkan setiap halaman melalui internal link dan gunakan CTA yang relevan.
Apabila Anda membutuhkan bantuan untuk menyusun strategi SEO, melakukan riset keyword, serta membangun content funnel yang mendukung penjualan e-commerce, hubungi D’Royan Digital Agency melalui WhatsApp 0857-7774-3201. Tim kami siap membantu bisnis Anda mengembangkan konten yang lebih terarah, relevan, dan memiliki nilai komersial.
seolounge



