Dalam dunia digital marketing, storytelling itu bukan hanya sebuah teknik. Ini juga bisa jadi cara yang efektif untuk berinteraksi dan memengaruhi audiens. Kenapa storytelling ini cukup efektif? Karena, manusia biasanya lebih mudah untuk mengingat sebuah cerita dibandingkan hanya penjelasan berdasarkan data. Nah, jika anda penasaran soal teknik storytelling, yuk simak artikel di bawah ini.

Apa Itu Storytelling?
Jadi, storytelling adalah sebuah proses untuk menyampaikan pesan atau informasi dengan bercerita, bisa melalui lisan, visual maupun, tulisan. Tujuannya sendiri adalah untuk menghibur, menyampaikan informasi atau pesan, menarik perhatian, memengaruhi, berinteraksi dan membangun koneksi emosional dengan audiens. Dengan menyampaikan cerita yang menarik, sebuah brand dapat menyampaikan pesan, visi, dan misi yang ingin disampaikan kepada audiens dengan pendekatan yang lebih personal.
Struktur Dasar Dalam Storytelling
Struktur dasar storytelling yang efektif ada 3 tahap, yaitu hook atau orientation, conflict dan resolution, lalu ditambah dengan CTA (Call-To- Action). Berikut penjelasannya:
- Hook atau Orientation: Bagian pengenalan, bisa berisi informasi, fakta atau konteks yang akan diceritakan untuk menarik perhatian audiens.
- Conflict: Menceritakan masalah yang dihadapi.
- Resolution: Menceritakan bagaimana penyelesaian dari konflik yang dihadapi.
- CTA (Call-To-Action): Bagian ini mengajak audiens untuk bertindak, seperti membeli, mendaftar, klik link atau mengikuti akun.
Teknik Storytelling yang Efektif
Adapun 4 teknik storytelling efektif yang bisa Anda untuk menghidupkan karakter brand Anda:
- Monomyth
Teknik ini menggunakan struktur cerita klasik yang dimana seseorang meninggalkan zona nyamannya, berjuang menghadapi berbagai konflik yang berat hingga akhirnya bisa mencapai tujuannya dan mendapatkan kesuksesan. Teknik ini biasanya terdengar inspiratif bagi audiens.
- The Mountain
Struktur dalam teknik ini menyerupai bentuk gunung, di mana ketegangan atau konflik meningkat secara bertahap hingga mencapai puncaknya. Cerita diawali dengan perkenalan situasi, kemudian berkembang menuju konflik, mencapai klimaks, lalu menurun hingga akhirnya menemukan penyelesaian. Pendekatan ini umumnya digunakan untuk membangun drama dalam cerita, baik dalam novel maupun pengenalan sebuah produk.
- Sparklines
Teknik yang ketiga ini adalah teknik yang menggunakan perbandingan perbedaan antara realita yang terjadi sekarang dengan harapan yang bisa dilakukan di masa depan secara berulang-ulang. Singkatnya, teknik ini digunakan untuk meyakinkan orang agar berpindah dari situasi saat ini ke situasi lebih baik yang telah ditawarkan.
- False Start
Teknik ini di awal akan menceritakan kesalahan, kegagalan atau pengalaman buruk di masa lalu, kemudian disusul dengan resolusinya, bagaimana solusi dari kesalahan atau kegagalan yang terjadi di masa lalu tersebut. Tujuannya adalah untuk membangun kepercayaan audiens melalui bukti nyata bahwa solusi yang ditawarkan saat ini merupakan hasil evaluasi dari kesalahan sebelumnya.
Baca Juga: 7 Kesalahan Storytelling Digital Marketing yang Sering Dilakukan Brand
Kesimpulan
Storytelling bukan hanya sekedar merangkai kata, akan tetapi juga sebuah strategi yang efektif untuk mengubah sebuah brand bisa menjadi sesuatu yang dekat dan relevan dengan audiens. Dengan memahami struktur dasar dan memilih teknik yang tepat untuk storytelling, Anda dapat dengan mudah membangun ikatan emosional yang kuat dengan audiens Anda, dan dengan begitu brand akan mulai dikenal dan dipercaya.
Layanan dan Informasi Lebih Lanjut
Jika Anda membutuhkan bantuan dalam pembuatan konten media sosial, jasa SEO website, atau strategi digital marketing yang lebih terarah. Silakan hubungi kami langsung melalui WhatsApp 0857-7774-3201, kami siap membantu Anda.
seolounge



